Minggu, 16 Januari 2011

GERAKAN WAJIB KULIAH

Mewujudkan Kemandirian Pemuda Melalui Gerakan Wajib Kuliah

Negara yang makmur dan sejahtera tidak tergantung dari lamanya merdeka suatu negara, contohnya mesir dan India, Negara ini sudah 2000 tahun lebih merdeka tetapi tetap menjadi negara yang miskin. Singapura dan New Zeland negara yang belum lama merdeka yakni dibawah 150 tahun, tetapi menjadi negara yang maju dan masyarakatnya sangat makmur.

Ketersediaan alam di suatu negara tidak menjamin kemakmuran dan kemajuan suatu negara, Jepang negara tandus 80% pegunungan, tetapi Jepang menjadi Negara Raksasa pada bidang ekonomi dunia. Jepang mengimpor bahan baku dari berbagai negara dan mengekspor barang jadinya ke semua negara didunia, terutama di Industri otomotif. Swis negara yang hanya memiliki 11% dunia. Cina yang merupakan negara berpenduduk terbesar didunia memiliki kawasan laut seper delapan dari laut Indonesia, tetapi Cina bisa memberikan kemakmuran Negaranya melalui potensi lautnya.

Kekayaan Indonesia tidak ternilai, dimulai dari kekayaan alam, baik tambang, emas, batubara, timah dsb yang terbentang dari sabang sampai merauke. Tanah yang subur, dengan musim tropisnya, semua tumbuhan tumbuh disini. Belum kekayaan laut yang luasnya dua pertiga daratan, isi lautan kita tidak terhingga. Sisi kekayaan lain adalah sektor pariwisata yang mempesona, dengan Borobudurnya yang pernah masuk dalam 7 keajaiban dunia.

Makmurnya suatu negara tidak tergantung lama merdekanya suatu negara, dan kejayaan suatu bangsa juga tidak tergantung banyaknya kekayaan alam yang dimiliki oleh suatu negara. Satu satunya jalan sukses dan makmurnya suatu negara sangat tergantung dari sumber daya manusia yang dimiliki. Intelejensi manusia antara negara maju dan negara berkembang rata rata sama, yang membedakan adalah kebiasaan sumber daya manusia tersebut. Dinegara maju sumber daya manusianya mematuhi 9 prinsip yaitu, pertama senantiasa menjunjung nilai nilai dan etika, yang kedua SDM di negara maju juga menjaga integritas dan kejujuran, ketiga bertanggungjawab, keempat hormat pada aturan dan hukum masyarakat, kelima hormat pada hak orang lain, keenam cinta pada pekerjaan, ketujuh berusaha untuk menabung dan investasi, kedelapan mau bekerja keras, dan kesembilan adalah senantiasa tepat waktu. Sembilan kebiasaan yang selalu dilakukan di negara maju, bertolak belakang dengan kebiasaan SDM di negara berkembang dan miskin.

Harga mati bagi suatu negara untuk mencapai kemajuan dan kemakmuran, terlebih lagi dengan kekayaan alam yang dimiliki berlimpah adalah dimilikinya sumber daya manusia berkualitas dengan habit seperti SDM di negara maju. Sumber daya berkualitas tentu tidak lepas dari keberadaan generasi muda sebagai penerus kepemimpinan bangsa kita. Kualitas sumber daya manusia terutama generasi muda tentu tidak lepas dari kekuatan pendidikan yang dimiliki. Dengan kapasitas pendapatan masyarakat yang rendah, upah minimum regional yang masih terbatas, perkembangan pendidikan khususnya bagi generasi muda Indonesia masih mengkhawatirkan. Rata rata pendidikan di Indonesia belum mencapai angka 9 tahun, dan jumlah mahasiswa yang saat ini sedang kuliah di seluruh Indonesia berkisar 4 juta orang berbanding 220 juta lebih penduduk Indonesia dan 70 juta lebih penduduk usia muda. Rendahnya rata rata pendidikan di Indonesia tentu menjadi pertimbangan akan kekhawatiran kualitas generasi muda Indonesia. Sisi berbeda berkaca dari alumni SMA/SMK/Madrasah Aliyah tahun 2010, keinginan kuliah bagi seluruh alumni sangat tinggi baik orang tuanya maupun siswanya itu sendiri. Benturan keinginan tidak terlaksana untuk melanjutkan kuliah di perguruan tinggi, bagi generasi muda Indonesia menuju pada satu faktor yaitu biaya. Kajian ini sungguh menarik, cukup banyak generasi muda alumni dari SMA/SMK/Madrasah Aliyah yang sangat ingin kuliah di Perguruan Tinggi, tidak bisa digapai karena persoalan kemiskinan dan ketidakmampuan biaya, sehingga mereka memupuskan segala keinginan karena keadaan. Hal tersebut terus berlalu sampai usia terus bertambah dan semangat untuk melanjutkan pendidikan terus menurun, masa depan kehidupan semakin jauh dari harapan.

Sisi berbeda didapati beberapa kelompok usia muda yang juga alumni dari SMA/SMK/Madrasah Aliyah juga memiliki keinginan yang tinggi untuk melanjutkan kuliah dengan harapan bisa meraih masa depan yang gemilang. Keadaan komunitas ini sama, miskin juga tidak memiliki biaya untuk menjadi sarjana. Dengan tekad yang kuat, mereka mencari jalan, dalam keadaan terbatas untuk tetap melanjutkan kuliah baik di Perguruan Tinggi Negeri maupun Perguruan Tinggi Swasta. Banyak cara yang dilakukan untuk generasi muda yang berjuang tetap melanjutkan kuliah walau dalam keadaan terbatas biaya, diantaranya :
  1. Rata rata generasi muda yang nekad kuliah dalam keadaan terbatas biaya adalah memiliki mimpi yang tinggi, tekad yang kuat, dan berjuang sekuat tenaga untuk bisa meraih mimpinya menjadi sarjana, bahkan melanjutkan S2 dan S3.
  2. Kuliah sambil kerja menjadi salah satu pilihan, biasanya mereka bekerja pada pagi hari, kemudian melanjutkan kuliah pada sore hari hingga malam. Hal ini terus ditekuni hingga 4 tahun maka gelar sarjana bisa diraih.
  3. Strategi kuliah mandiri sisi yang lain, generasi muda biasanya mengejar beasiswa baik formal maupun informal. Beasiswa formal biasa diraih dari berbagai lembaga yang menyediakan, baik lembaga pemerintah atau swasta, sedang beasiswa non formal adalah kreatifitas dari generasi muda untuk mencari orang tua asuh membiayai kuliahnya. Banya yang sukses dengan cara ini, selesai jadi sarjana bahkan bisa melanjutkan S2 dan S3.
  4. Kuliah mandiri bisa diwujudkan dengan memaksimalkan potensi yang dimiliki oleh generasi muda Indonesia, antara lain adalah kuliah sambil bisnis. Biasanya dilakukan oleh kelompok pemuda yang memiliki bakat di dunia bisnis, ada yang bekerjasama dengan pemodal dengan membuka kios HP, warung juga restoran sehingga dengan kreatifitasnya menghatarkan pemuda kita meraih gelar sarjana.
  5. Potensi pemuda yang lainnya adalah, pengembangan bakat seni, tidak sedikit generasi kita bisa meraih gelar sarjana dengan biaya sendiri melalui kreatifitas di dunia seni, baik menjadi pengamen pribadi ke perbagai tempat atau bersama membentuk band dan membuat pertunjukan di kafe serta tempat lain.
  6. Bakat lain yang dilakukan generasi muda untuk kuliah mandiri adalah mereka yang terjun di dunia event organizer, baik seminar, lokakarya, hingga konser musik. Banyak anak sukses dengan cara ini, selesai kuliah dan memiliki aset yang memadai.
  7. Di dunia LSM juga tidak sedikit generasi muda yang berhasil kreatif dalam strategi ini, hingga bisa menjadi sarjana, melanjutkan ke S2 dan S3.
  8. Dalam bakat tulis menulis, juga sangat banyak generasi muda yang menggeluti dengan cara ini, baik menulis di media maupun buku, hingga mendapatkan hasil yang cukup untuk tetap bisa kuliah mandiri hingga jadi sarjana.
  9. Ikut organisasi adalah cara lain, generasi muda bisa kuliah mandiri, dengan jaringan yang dimiliki, organisasi juga memiliki aset cukup, tidak sedikit pemuda yang aktif di Organisasi bisa mandiri kemudian mewujudkan impiannya menjadi sarjana.
Beberapa strategi diatas merupakan cara mewujudkan keinginan pemuda bisa meraih pendidikan tinggi bergelar sarjana, bahkan melanjutkan ke S2 dan S3. Keterbatasan dana bukan menjadi alasan bagi generasi muda untuk berdiam diri, tidak mau berjuang dan berusaha untuk meraih impian, melanjutkan kuliah ke Perguruan Tinggi. Jika sudah ada tekad dari pemuda, walau dalam keadaan miskin tetap berupaya melanjutkan kuliah, dengan berbagai cara yang bisa menjadi penompang untuk program kuliah mandiri, maka impian menjadi sarjana bisa diraih.

Gerakan Wajib Kuliah ke Perguruan Tinggi bagi generasi muda Indonesia, khususnya yang memiliki keadaan terbatas biaya menjadi satu semangat, satu beban bagi pemuda Indonesia untuk wajib melaksanakannya, meraih gelar sarjana guna mencapai masa depan yang lebih baik.

Penulis : Ilyas Indra Damar Jati

Wakil Rektor Bidang Kerjasama & Kemahasiswaan / Ketua DPP KNPI

Tidak ada komentar:

Posting Komentar